PROMOSI KESEHATAN

Derajat kesehatan seseorang dipengararuhi oleh 4 faktor utama. Faktor kedua terbesar setelah lingkungan adalah faktor perilaku kesehatan (by Hendrik L. Blum). Masyarakat Indonesia membutuhkan berbagai informasi seputar kesehatan yang adekuat, based evidence dan berkelanjutan.

Saturday, October 18, 2008

LPP Desa Untuk Taman Posyandu





Prinsip dasar revitalisasi posyandu mengacu kepada tujuan UKBM yaitu mengembalikan pengelolaan posyandu kepada masyarakat sehingga posyandu benar-benar dilaksanakan oleh, dari dan untuk masyarakat. Diperlukan penggerak di tengah masyarakat untuk menggerakkan, memotivasi dan mengajak masyarakat untuk mencapai tujuan di atas tadi, oleh karena itu perlu dibentuk Lembaga Pembina Posyandu Desa/ kelurahan, disingkat dengan LPP Desa. Pembentukan ini tentu saja seharusnya oleh masyarakat itu sendiri, agar keberadaan LPP tersebut berjalan sesuai keinginan masyarakat dan berkelanjutan di masa yang akan datang. Petugas kesehatan berperan sebagai fasilitator dan pendorong dari belakang.
LPP Desa yang merupakan lembaga masyarakat desa ini seharusnya beranggotakan tokoh masyarakat desa setempat, tokoh agama, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), tokoh pendidik dan tokoh perempuan yang disegani, misalnya di Sumatera Barat dikenal Kelompok Bundo Kanduang, dan jika memungkinkan organisasi pemuda seperti karang taruna desa. Keberadaan para tokoh ini di sebuah lembaga akan membuka mata masyarakat bahwa memang sudah waktunya masyarakat memperhatikan kembali kelangsungan posyandu demi kesehatan dan kesejahteraan anak-anak mereka.
Sama halnya dengan keberadaan Lembaga Kesehatan Masyarakat Desa (LKMD) pada tahun 1986 dulu, LPP Desa diharapkan mampu menjadi penghubung atau perekat seluruh posyandu yang ada di desa tersebut dan juga penghubung antar masyarakat lokal yang ekonominya lebih mampu atau warga asing yang tinggal di lokasi sekitar posyandu atau pendonor lain terutama dalam hal menyalurkan bantuan materil, moril, dana untuk operasional posyandu dan kegiatan taman posyandu. Dengan demikian, posyandu dan kegiatan taman posyandu seharusnya bisa terus berjalan secara mandiri tanpa ketergantungan kepada pemerintah. Seharusnya pemerintah benar-benar hanya menjadi fasilitator untuk mencukupi hal-hal yang tidak mampu dilakukan masyarakat seperti imunisasi dan mencetak KMS.
LPP Desa diharapkan mampu menjalankan peranan utamanya yaitu pengumpulan dana swadaya masyarakat yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk pembelian ATK dan media-media belajar anak seperti krayon, buku gambar, buku mewarnai untuk kegiatan taman posyandu yang berjalan 2x/minggu. Perlu digaris bawahi bahwa media belajar anak bukanlah barang mahal dan sulit didapat, artinya pengadaannya sangat dimungkinkan dari swadaya masyarakat, dari barang bekas atau limbah rumah tangga seperti kalender bekas, kotak susu bekas, majalah bekas dll, yang penting adalah bagaimana LPP mampu mengkomunikasikannya kepada masyarakat.

Labels: ,

Wednesday, October 15, 2008

Aktifitas Taman Posyandu





Anak-anak terlihat antusias bernyanyi dan bermain, meskipun ada diantara mereka yang memiliki keterbatasan....
"ciiiiissss..." teriak anak-anak serentak ketika camera mengarah kepada mereka..., "asyiiik, dipoto nih sama Bunda", celoteh mereka...

Labels:

The Current Issues of Public Health In Indonesia








Tingginya Angka Kematian ibu (AKI)dan Angka Kematian Bayi (AKB)di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah terberat bagi praktisi kesehatan masyarakat. Data BPS- Statistics Indonesia dan IDHS 2002-2003 menunjukkan bahwa AKI di Indonesia 307/100.000 kelahiran hidup antara tahun 1998 - 2002. Sedangkan AKB di Indonesia adalah 35/1000 kelahiran hidup menurut SDKI 2002/2003. Penyebab dominan tingginya AKI adalah perdarahan post partum (Dinkes Tasikmalaya, 2007). Jika dicari akar permasalahannya adalah rendahnya upaya pemberian informasi adekuat tentang kesehatan kepada PUS dan para ibu hamil. AKB di Indonesia didominasi oleh kematian neonatal (bayi berusia 0 - 28 hari setelah lahir) (Depkes RI, 1994). Penyebab utamanya karena rendahnya pengetahuan ibu tentang praktek perawatan bayi. Sofyan (1997) dalam tesis yang mengkaji tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu dalam swa-rawat dan merawat bayi di Puskesmas Kecamatan Matraman, menemukan bahwa pengetahuan ibu mempunyai hubungan yang bermakna dengan perilaku merawat bayi.

Salah satu wahana yang dijadikan ujung tombak intervensi di level masyarakat adalah Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Satu-satunya tempat/ wahana di mana ibu-ibu dan Balitanya (terutama di pedesaan) berkumpul pada waktu bersamaan untuk mendapatkan pelayanan dan penyuluhan kesehatan adalah Posyandu.

Posyandu adalah salah satu bentuk upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi.

Pelayanan-pelayanan di posyandu seperti penimbangan anak, pencatatan/ pemantauan pertumbuhan anak melalui timbangan berat badan anak, imunisasi dan konseling terkait perawatan dan pelayanan kesehatan merupakan sebuah peluang emas bagi para ibu dan anaknya untuk bertanya dan berdiskusi dengan kader dan tenaga kesehatan dalam rangka menjaga kesehatan keluarganya.

Sementara itu, pemerintah bersama-sama LSM bidang kesehatan ibu dan anak terus mencari upaya untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan di posyandu. Sejak tahun 2004 pemerintah telah mencoba mengembangkan posyandu sebagai tempat untuk menstimulasi perkembangan anak seperti perkembangan kemampuan motorik kasar, motorik halus, kemampuan bersosialisasi, kemampuan berkomunikasi dengan teman sebayanya. Posyandu plus ini dinamakan sebagai Taman Posyandu.

Taman Posyandu merupakan kombinasi intervensi kesehatan, perawatan, gizi dan pendidikan anak. Salah satu kegiatannya adalah kegiatan makan bersama sesama anak di lokasi taman posyandu setiap 3 kali/ minggu. Tujuan akhir kegiatan ini adalah peningkatan status gizi anak-anak Taman Posyandu sekaligus mengajarkan tata cara makan yang baik. Selain itu, para orangtua juga terus diberikan penyuluhan secara rutin bagaimana menyiapkan makanan sehat dan cukup gizi mulai dari hamil hingga anak berusia 5 tahun.

Oleh karena itu, keberadaan Taman Posyandu diharapkan mampu berkontribusi terhadap penurunan angka kematian ibu dan bayi dengan cara memberikan informasi secara adekuat dan berkelanjutan kepada ibu tentang hal-hal yang berhubungan langsung dengan kondisi kehamilan dan perawatan bayi-bayi mereka di rumah.









Labels: