Tingginya Angka Kematian ibu (AKI)dan Angka Kematian Bayi (AKB)di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah terberat bagi praktisi kesehatan masyarakat. Data BPS- Statistics Indonesia dan IDHS 2002-2003 menunjukkan bahwa AKI di Indonesia 307/100.000 kelahiran hidup antara tahun 1998 - 2002. Sedangkan AKB di Indonesia adalah 35/1000 kelahiran hidup menurut SDKI 2002/2003. Penyebab dominan tingginya AKI adalah perdarahan post partum (Dinkes Tasikmalaya, 2007). Jika dicari akar permasalahannya adalah rendahnya upaya pemberian informasi adekuat tentang kesehatan kepada PUS dan para ibu hamil. AKB di Indonesia didominasi oleh kematian neonatal (bayi berusia 0 - 28 hari setelah lahir) (Depkes RI, 1994). Penyebab utamanya karena rendahnya pengetahuan ibu tentang praktek perawatan bayi. Sofyan (1997) dalam tesis yang mengkaji tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu dalam swa-rawat dan merawat bayi di Puskesmas Kecamatan Matraman, menemukan bahwa pengetahuan ibu mempunyai hubungan yang bermakna dengan perilaku merawat bayi.
Salah satu wahana yang dijadikan ujung tombak intervensi di level masyarakat adalah Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Satu-satunya tempat/ wahana di mana ibu-ibu dan Balitanya (terutama di pedesaan) berkumpul pada waktu bersamaan untuk mendapatkan pelayanan dan penyuluhan kesehatan adalah Posyandu.
Posyandu adalah salah satu bentuk upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi.
Pelayanan-pelayanan di posyandu seperti penimbangan anak, pencatatan/ pemantauan pertumbuhan anak melalui timbangan berat badan anak, imunisasi dan konseling terkait perawatan dan pelayanan kesehatan merupakan sebuah peluang emas bagi para ibu dan anaknya untuk bertanya dan berdiskusi dengan kader dan tenaga kesehatan dalam rangka menjaga kesehatan keluarganya.
Sementara itu, pemerintah bersama-sama LSM bidang kesehatan ibu dan anak terus mencari upaya untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan di posyandu. Sejak tahun 2004 pemerintah telah mencoba mengembangkan posyandu sebagai tempat untuk menstimulasi perkembangan anak seperti perkembangan kemampuan motorik kasar, motorik halus, kemampuan bersosialisasi, kemampuan berkomunikasi dengan teman sebayanya. Posyandu plus ini dinamakan sebagai Taman Posyandu.
Taman Posyandu merupakan kombinasi intervensi kesehatan, perawatan, gizi dan pendidikan anak. Salah satu kegiatannya adalah kegiatan makan bersama sesama anak di lokasi taman posyandu setiap 3 kali/ minggu. Tujuan akhir kegiatan ini adalah peningkatan status gizi anak-anak Taman Posyandu sekaligus mengajarkan tata cara makan yang baik. Selain itu, para orangtua juga terus diberikan penyuluhan secara rutin bagaimana menyiapkan makanan sehat dan cukup gizi mulai dari hamil hingga anak berusia 5 tahun.
Oleh karena itu, keberadaan Taman Posyandu diharapkan mampu berkontribusi terhadap penurunan angka kematian ibu dan bayi dengan cara memberikan informasi secara adekuat dan berkelanjutan kepada ibu tentang hal-hal yang berhubungan langsung dengan kondisi kehamilan dan perawatan bayi-bayi mereka di rumah.
0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home